Studi Evaluasi Eleminasi Filariasis Tahun 2017 Di Kabupaten Hulu Sungai Utara

Foto Mahyu Liansyah.

Di kabupaten Hulu sungai Utara dari hasil survey darah tahun 2004 di 3 (tiga) Kecamatan (Amuntai Selatan, Amuntai Utara dan Banjang) di 9 (sembilan) desa ditemukan 14 positif dimana MFR tertinggi yaitu desa Banjang Kecamatan Banjang 7 (tujuh) orang (3,04 %).desa Bajawit Kecamatan Amuntai Selatan 2 orang (1,04 %) desa Pihaung Kecamatan Amuntai utara 2 orang ( 1,04 %). Dari hasil survey tersebut Kabupaten Hulu Sungai Utara melaksanakan Eleminasi Kaki Gajah (ELKAGA) melalui Pengobatan massal mulai tahun 2007 sampai dengan tahun 2011.

Untuk  mengetahui keberhasilan pengobatan massal tersebut salah satu upaya yang dilakukan selanjutnya adalah Studi Evaluasi Eleminasi Filariasis. Studi Evaluasi Eleminasi Filariasis Tahun 2017 Di Kabupaten Hulu Sungai Utara dilaksanakan di desa Pihaung Kecamatan Haur Gading dan desa Banjang Kecamatan Banjang. Kegiatan dilaksanakan dari tanggal 6 September 2017 sampai dengan17 September 2017. Tim studi adalah Tim dari Balitbangkes Kemenkes RI dan Balitbang P2B2 Tanah Bumbu,

Tujuan Umum

Mengetahui dan menganalisis program eliminasi filariasis di kabupaten/kota yang telah melaksanakan POPM.

Tujuan Khusus

1. Diketahui dan dianalisis kegagalan dan keberhasilan eliminasi filariasis dari hasil analisis aspek epidemiologi (host, agent, lingkungan).

2. Diketahuinya dan dianalisis kegagalan dan keberhasilan eliminasi filariasis dari hasil analisis aspek manajemen.

3. Didapatkannya masukan yang signifikan untuk perbaikan eliminasi filariasis di Indonesia.

Manfaat Hasil dari studi ini diharapkan dapat dijadikan dasar atau acuan dalam hal pengembangan model eliminasi filariasis yang dapat diterapkan oleh pelaksana program dalam penanggulangan filariasis.

Jenis studi adalah potong lintang (cross sectional).

Secara terperinci kegiatan yang dilaksanakan sesuai metode yang dipakai adalah sebagai berikut :

  1. Survei Darah Jari (SDJ) yaitu pengambilan darah jari yang dilakukan malam hari untuk mengetahui ada tidaknya mikrofilaria di dalam darah. Spesimen darah dilihat dengan mikroskop. Populasi adalah masyarakat di sekitar tempat berdomisilinya anak SD/MI yang positif tes antibodi/antigen. Jika kabupaten tsb hasil TAS yang dilakukan pada tahun 2016, semuanya negatif, maka dipilih masyarakat yang berdomisili di sentinel area/ spot area. Jumlah sampel sebanyak 310 orang/desa. Total setiap kabupaten = 620 orang.
  2. Stool Survey (StS) yaitu pemeriksaan tinja pada anak-anak. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah kemungkinan adanya reaksi silang brugia rapid diagnostic test yang positif dengan kejadian infeksi kecacingan perut (ascariasis). Populasi adalah anak SD/MI kelas 1 dan 2 di kabupaten lokasi penelitian. Jumlah sampel sebanyak 10% dari total sampel TAS yaitu 150-160 anak termasuk anak yang positif antibodi.
  3. Deteksi DNA Brugia malayi yaitu pemeriksaan ada tidaknya jejak keberadaan fragmen mikrofilaria Brugia malayi di dalam darah. Populasi adalah anak SD/MI kelas 1 dan 2 di kabupaten lokasi penelitian. Sampel adalah anak SD/MI kelas 1 dan 2 yang positif/negatif hasil tes antibodi. Jumlah sampel 15-20 per kabupaten. Subyek diambil darah jari sebanyak l.k 100 mikroliter.
  4. KAP Survey Filariasis yaitu survei untuk mengetahui aspek pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terkait dengan program eliminasi filariasis (penyebab penyakit, pengobatan, dan pencegahan). Populasi adalah masyarakat di sekitar tempat berdomisilinya anak SD/MI yang positif tes antibodi/antigen dan atau masyarakat yang berdomisili di sentinel dan spot area. Sampel adalah orang yang berusia 15 tahun ke atas. Jumlah sampel sebanyak 200 orang pada 50–80 rumah tangga, total sampel 400 orang per kabupaten.
  5. Modifikasi Focus Group Discussion (FGD) yaitu metode pengumpulan data kualitatif untuk mengetahui sampai seberapa jauh informan (stake holder) mengetahui masalah yang terkait dengan program eliminasi filariasis. Populasi adalah para pejabat di tingkat kabupaten dan kecamatan (lintas program dan lintas sektor). Informan adalah para pejabat lintas program dan sektor di tingkat kabupaten dan kecamatan; sebanyak 10—12 orang.
  6. Wawancara Mendalam (In-depth Interview), ditujukan kepada para pejabat di dinkes provinsi; dan penduduk yang minum obat dan yang tidak minum obat serta tokoh masyarakat yang ada di desa/kelurahan lokasi penelitian. Informan adalah para pejabat di dinkes provinsi yang terkait dengan pelaksanaan program pengendalian filariasis, dan tokoh masyarakat (formal dan informal) serta penduduk yang minum dan tidak minum obat; sebanyak 10–12 orang. Lokasi adalah desa tempat pelaksanaan SDJ yang di setiap kabupaten dilaksanakan pada 2 desa.
  7. Survei Vektor (Nyamuk) dilakukan untuk melihat spesies nyamuk yang mengandung larva L1, L2 dan L3. Pelaksanaannya 2 kali, dengan selang waktu 1 bulan. Dimulai sore hari pukul 17 sampai esok hari pukul 6. Metode yang digunakan adalah modifikasi human landing collection dalam kelambu, umpan hewan reservoir, dan light trap collection sepanjang malam. Selain survei vektor, juga dilakukan survei habitat vektor. Lokasi survei adalah desa tempat pelaksanaan SDJ.
  8. Survei Darah Reservoar (Kucing, Lutung dan Monyet Ekor Panjang) yaitu pengumpulan darah reservoar yang dilakukan di kabupaten yang endemis Brugia malayi. Tujuannya adalah untuk melihat ada tidaknya mikrofilaria dalam darah reservoar. Pemilihan kucing/monyet ekor panjang/lutung (peliharaan dan liar) dilakukan secara purposif. Jumlah sampel sebanyak 100 ekor di setiap kabupaten yang tersebar di setiap titik pengambilan. Lokasi adalah desa tempat pelaksanaan SDJ (2 desa di setiap kabupaten), dipilih pada 3-4 titik wilayah/desa.
  9. Survei Lingkungan adalah pengumpulan data dan informasi yang terkait dengan lingkungan biologis dari vektor dan reservoar pada daerah tempat pelaksanaan studi. Lokasi adalah lingkungan rumah penduduk tempat pelaksanaan SDJ pada 2 desa di setiap kabupaten.

Sumber :

  1. http://keperawatankomunitas.blogspot.co.id/2009/04/eleminasi-kaki-gajah-elkaga.html
  2. KERANGKA ACUAN PENELITIAN (TERM OF REFERENCE) Studi Evaluasi Eliminasi Filariasis di Indonesia Tahun 2017 (Studi Multisenter Filariasis)

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: